News

MAKAM CAKAR BUDAYA PUTRI CAMPA DAN BRAWIJAYA V DI TROWULAN, EMPAT PRESIDEN DISEBUT PERNAH BERKUNJUNG, AGUS FLORES RUTIN TABUR BUNGA

83

JAKARTA, 1 NOVEMBER 2026

MOJOKERTO Situs makam yang dikenal masyarakat sebagai makam Putri Campa dan Prabu Brawijaya V di kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, menyimpan kisah sejarah, tradisi ziarah, serta cerita turun-temurun yang masih dijaga hingga saat ini.

Tempat yang berada di kawasan peninggalan peradaban Majapahit tersebut kembali menjadi perhatian setelah Raden Mas Haji Agus Rugiarto Astrodiarjo, S.H., M.H., yang dikenal luas dengan nama Agus Flores, melakukan ziarah dan tabur bunga di makam yang diyakini memiliki hubungan dengan leluhur Kerajaan Majapahit.

Agus Flores dikenal memiliki kebiasaan berziarah secara berkala. Menurut keterangan keluarga penjaga makam, kedatangannya biasanya dilakukan dalam rentang dua hingga tiga tahun sekali. Tabur bunga menjadi bagian dari tradisi penghormatan terhadap tokoh-tokoh yang diyakini memiliki hubungan sejarah dengan garis keturunannya.

Roro Mariam, yang dikenal sebagai juru kunci sekaligus sosok yang mengaku memiliki garis keturunan tujuh generasi dari Brawijaya, mengungkapkan bahwa bunga segar yang ditaburkan di makam sering menjadi penanda kedatangan Agus Flores.

“Para tamu ziarah biasanya sudah mengetahui. Ketika terlihat banyak bunga segar di makam Eyang Raja Majapahit dan Eyang Putri Campa, mereka menduga Mas Agus datang kembali,” ujar Roro Mariam.

RORO MARIAM: BUNGA DISIAPKAN JIKA AGUS FLORES DATANG

Roro Mariam menjelaskan bahwa tradisi menyiapkan bunga merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur. Ia menyebut, apabila sosok yang diyakininya sebagai cucu keturunan Brawijaya V datang berziarah, pihak penjaga makam akan menyiapkan bunga agar dapat ditaburkan langsung oleh Agus Flores.

“Jika cucu asli Brawijaya V datang, kami harus menyiapkan bunga. Kami ingin bunga itu disiram dan ditaburkan langsung dari tangannya,” ungkap Roro Mariam.

Ia juga menceritakan pengalaman spiritual yang menurut pengakuannya pernah dialami, yakni merasa didatangi sosok Putri Campa melalui mimpi dan seolah menanyakan kehadiran Mas Agus.

Kisah tersebut menjadi bagian dari cerita turun-temurun dan keyakinan pribadi yang berkembang di lingkungan penjaga makam.

DISEBUT PERNAH DIKUNJUNGI EMPAT PRESIDEN INDONESIA

Salah satu cerita menarik yang disampaikan Roro Mariam adalah mengenai kunjungan sejumlah tokoh nasional ke kawasan situs peninggalan Majapahit tersebut.

Menurut penuturannya, kawasan itu pernah dikunjungi Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno, kemudian Presiden kedua Soeharto bersama Ibu Tien Soeharto, disusul Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, serta Presiden Megawati Soekarnoputri.

“Sejak zaman Presiden Soekarno, situs ini sudah dikunjungi. Kemudian Presiden Soeharto bersama Ibu Tien, dilanjutkan Presiden Gus Dur dan Presiden Megawati,” jelas Roro Mariam.

Ia juga menyebut bahwa perhatian terhadap kawasan peninggalan Majapahit pernah dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Keterangan mengenai kunjungan para presiden tersebut menjadi cerita penting yang perlu ditelusuri lebih lanjut melalui dokumentasi sejarah, arsip pemerintah, maupun catatan kunjungan resmi.

KOLAM SEGARAN DAN JEJAK PERADABAN MAJAPAHIT

Trowulan selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan penting peninggalan Kerajaan Majapahit. Di wilayah ini terdapat berbagai situs arkeologi, termasuk Kolam Segaran, yang menjadi salah satu peninggalan bersejarah dan daya tarik wisata budaya.

Keberadaan situs-situs tersebut mengingatkan masyarakat terhadap kejayaan Majapahit sebagai salah satu kerajaan besar dalam sejarah Nusantara.

Roro Mariam menyebut kawasan Kolam Segaran memiliki hubungan dengan kehidupan kerajaan pada masa lalu. Ia juga mengisahkan bahwa kawasan makam Putri Campa dan Brawijaya V diyakini telah dikenal masyarakat selama ratusan tahun.

Selain itu, ia menyampaikan cerita mengenai dua tokoh panglima perang yang menurut tradisi setempat dimakamkan di kawasan cagar budaya tersebut.

Kisah-kisah itu menjadi bagian dari warisan lisan masyarakat yang menarik untuk diteliti lebih jauh melalui pendekatan sejarah dan arkeologi.

MAKAM YANG DIHARAPKAN MENDAPAT PERHATIAN POLRI

Di tengah kuatnya perhatian masyarakat terhadap peninggalan sejarah Majapahit, Roro Mariam juga menyampaikan harapannya agar kawasan makam tersebut memperoleh perhatian lebih luas, termasuk dari institusi Kepolisian Republik Indonesia.

Menurut pengakuannya, kunjungan dari kalangan kepolisian ke lokasi makam tersebut masih tergolong jarang.

Ia berharap institusi Polri dapat turut mengenal, memperhatikan, dan mendukung pelestarian situs-situs bersejarah yang memiliki nilai kebudayaan bagi bangsa Indonesia.

Perhatian terhadap situs sejarah bukan semata-mata persoalan ziarah, melainkan juga bagian dari upaya menjaga identitas, warisan budaya, dan perjalanan panjang bangsa.

AGUS FLORES DAN TRADISI MENGHORMATI LELUHUR

Bagi Agus Flores, ziarah ke makam yang diyakini memiliki hubungan dengan leluhurnya merupakan bagian dari tradisi penghormatan terhadap sejarah keluarga.

Sebagai Ketua Umum Perkumpulan Wartawan Fast Respon (FRN) dan pengacara senior di DKI Jakarta, kehadirannya di kawasan Trowulan juga menarik perhatian masyarakat yang mengenalnya melalui aktivitas organisasi dan pemberitaan nasional.

Terlepas dari berbagai cerita silsilah dan tradisi spiritual yang berkembang di lingkungan makam, peninggalan sejarah Majapahit di Trowulan tetap memiliki nilai penting untuk dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sebab, sejarah bukan hanya tentang siapa yang datang berziarah, tetapi juga tentang bagaimana bangsa Indonesia merawat peninggalan masa lalu agar tidak hilang ditelan zaman.

Red

News

Jadikan 31 Oktober 2026 Polda Kalimantan Tengah secara…

Exit mobile version