Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
News

KETUM FAST RESPON COUNTER POLRI NUSANTARA AGUS FLORES SAMBANGI PETIRTAAN JOLOTUNDO, MENELUSURI JEJAK SEJARAH KERAJAAN MEDANG DAN WARISAN SPIRITUAL LELUHUR

8
×

KETUM FAST RESPON COUNTER POLRI NUSANTARA AGUS FLORES SAMBANGI PETIRTAAN JOLOTUNDO, MENELUSURI JEJAK SEJARAH KERAJAAN MEDANG DAN WARISAN SPIRITUAL LELUHUR

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Jakarta 1 NOVEMBER 2026

Ketua Umum Fast Respon Counter Polri Nusantara, Raden Mas Haji Agus Rugiarto, S.H., M.H., yang dikenal luas dengan nama panggilan Agus Flores, melakukan kunjungan ke Petirtaan Jolotundo, sebuah situs bersejarah peninggalan masa Kerajaan Medang atau Mataram Kuno yang berada di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Example 300x600

Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat warisan peradaban leluhur Nusantara, sekaligus menyelami nilai sejarah, budaya, dan spiritualitas yang tersimpan di kawasan lereng barat Gunung Penanggungan.

Petirtaan Jolotundo bukan sekadar bangunan pemandian kuno. Situs ini merupakan salah satu peninggalan arkeologi penting yang memperlihatkan tingginya kemampuan masyarakat Jawa pada masa lampau dalam membangun kawasan suci dengan memanfaatkan sumber mata air alami.

Berdasarkan angka tahun yang terpahat pada bangunan, Petirtaan Jolotundo diperkirakan dibangun pada 899 Saka atau 977 Masehi. Tradisi sejarah mengaitkan pendiriannya dengan Raja Udayana dari Dinasti Warmadewa dan kelahiran putranya, Airlangga, yang kelak menjadi tokoh penting dalam sejarah kerajaan di Jawa Timur.

Airlangga kemudian dikenal sebagai pendiri Kerajaan Kahuripan, seorang raja yang memiliki peran besar dalam membangun kembali kekuatan politik dan kehidupan masyarakat setelah masa pergolakan.

Keistimewaan Petirtaan Jolotundo terlihat dari konstruksi batu andesit, tata bangunan kolam, serta saluran air yang hingga kini masih mengalir dari sumber mata air kawasan Gunung Penanggungan. Kejernihan airnya menjadi salah satu daya tarik utama bagi pengunjung.

Di kawasan ini juga terdapat pahatan dan ornamen kuno yang memperlihatkan kekayaan seni serta tradisi keagamaan masyarakat pada masa kerajaan.

Situs Jolotundo kembali mendapat perhatian dunia modern setelah dilaporkan oleh J.W.B. Wardenaar pada 1815 dalam rangkaian pendataan peninggalan sejarah yang berkaitan dengan pemerintahan Thomas Stamford Raffles.

Baca Juga:  Kapolri Jenderal Suyudi Janji Sikat Habis Oknum Aparat Penegak Hukum Pembeking Narkoba dan Tambang!

Bagi Agus Flores, kunjungan ke tempat bersejarah seperti Jolotundo merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa bangsa Indonesia memiliki perjalanan peradaban yang panjang dan warisan budaya yang patut dijaga.

Menurutnya, generasi sekarang tidak boleh hanya menikmati keindahan tempat-tempat bersejarah, tetapi juga harus memahami nilai perjuangan, kebijaksanaan, dan kebudayaan yang diwariskan para leluhur.

Kunjungan ini juga menjadi momentum refleksi bahwa kemajuan bangsa tidak boleh memutus hubungan dengan akar sejarahnya. Menjaga situs peninggalan kerajaan berarti ikut menjaga identitas dan kehormatan bangsa.

Petirtaan Jolotundo mengajarkan bahwa air, alam, dan kehidupan memiliki hubungan yang erat dalam kebudayaan Nusantara. Karena itu, kelestarian sumber mata air, kebersihan lingkungan, serta perlindungan kawasan cagar budaya harus menjadi tanggung jawab bersama.

Agus Flores berharap situs-situs bersejarah di berbagai daerah Indonesia terus dirawat, diperkenalkan kepada generasi muda, dan dikembangkan sebagai tujuan wisata sejarah yang tetap menghormati nilai kesakralan serta aturan pelestarian.

Jolotundo menjadi pengingat bahwa Nusantara bukan bangsa yang tidak memiliki sejarah. Jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara modern, para leluhur telah meninggalkan bukti peradaban, karya arsitektur, dan nilai kehidupan yang hingga kini masih dapat disaksikan.

Melalui kunjungan tersebut, Agus Flores mengajak masyarakat untuk tidak melupakan sejarah, menghormati peninggalan leluhur, dan menjaga warisan budaya sebagai bagian dari tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.

SEJARAH ADALAH IDENTITAS, WARISAN LELUHUR ADALAH TANGGUNG JAWAB GENERASI PENERUS.

sejarah: Penelitian arkeologi terbaru mencatat bahwa hubungan langsung pembangunan Jolotundo dengan Raja Udayana dan kelahiran Airlangga masih menjadi bahan kajian. Angka 899 Saka atau 977 Masehi memang tercatat pada situs tersebut, tetapi sejumlah kajian menunjukkan tahun itu lebih awal daripada kelahiran Airlangga yang diperkirakan sekitar 991 Masehi.
Redaksi

Example 300250
Example 120x600