News

Karhutla Meluas di Sejumlah Wilayah, Gunung Ciremai hingga Raja Ampat Jadi Perhatian

153

 

JAKARTA, 23 OKTOBER 2026 Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai di Jawa Barat, Kabupaten Raja Ampat di Papua Barat Daya, serta Kota Palangka Raya di Kalimantan Tengah menjadi sejumlah lokasi yang mendapat perhatian dalam penanganan kebakaran.

Kondisi tersebut menuntut kewaspadaan karena kebakaran berpotensi merusak ekosistem, mengancam kawasan konservasi, serta menimbulkan kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat.

Di Jawa Barat, kebakaran dilaporkan melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), tepatnya di Grid 15 M, Resor Pasawahan, Kabupaten Kuningan. Api mulai terpantau pada Rabu malam, 21 Oktober 2026, dan dilaporkan masih menyala serta belum sepenuhnya padam pada Kamis pagi, 22 Oktober 2026.

Tim gabungan yang terdiri atas Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan (Brigdalkarhutla) TNGC, Manggala Agni, dan Masyarakat Peduli Api (MPA) dikerahkan untuk melakukan penanganan. Upaya pemadaman dan pengendalian terus diperlukan guna mencegah api meluas ke bagian kawasan hutan lainnya.

Sementara itu, di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, kebakaran hutan dan lahan di Kelurahan Sapordanco, Distrik Kota Waisai, dan wilayah sekitarnya dilaporkan mencapai luas sekitar 357,5 hektare. Sebagian besar api disebut telah berhasil dipadamkan, sedangkan titik-titik yang masih tersisa memerlukan penanganan lanjutan.

Di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kebakaran lahan kembali dilaporkan terjadi di Jalan Soekarno pada Kamis siang, 22 Oktober 2026. Penanganan di lokasi diperlukan untuk mencegah api menjalar, terutama apabila kondisi lahan kering dan angin mendukung penyebaran kebakaran.

Laporan kejadian karhutla juga mencakup sejumlah wilayah lain, di antaranya Cilacap dan Wonosobo di Jawa Tengah. Sementara itu, sebaran kabut asap dilaporkan berdampak terhadap Kota Palembang, Sumatra Selatan. Tingkat konsentrasi asap dan kualitas udara di masing-masing wilayah perlu dipastikan melalui pemantauan instansi berwenang.

Pemadaman dan Pencegahan Terus Diperlukan

Penanganan karhutla dilakukan melalui berbagai upaya, mulai dari pemadaman oleh tim darat, pelokalisasian titik api, patroli, hingga dukungan operasi udara sesuai kebutuhan dan kondisi lapangan.

Koordinasi lintas instansi menjadi penting untuk mempercepat penanganan, mengidentifikasi titik panas, serta mencegah kebakaran kembali muncul setelah api utama berhasil dikendalikan.

Terkait kabut asap, informasi mengenai pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), termasuk penggunaan bahan penyemaian tertentu seperti dry ice, perlu disesuaikan dengan keterangan resmi BNPB dan instansi teknis terkait. Modifikasi cuaca tidak boleh disamakan dengan pemadaman langsung di titik kebakaran karena pelaksanaannya bergantung pada kondisi atmosfer dan tujuan operasi.

Masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker yang sesuai, serta mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau gangguan kesehatan. Warga juga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan kebakaran yang ditemukan kepada petugas setempat.

Layanan darurat BNPB di nomor 117 dapat digunakan untuk memperoleh informasi atau menyampaikan laporan kebencanaan sesuai cakupan layanan yang berlaku.

Perkembangan karhutla di berbagai daerah perlu terus dipantau. Selain mempercepat pemadaman, pengawasan kawasan rawan kebakaran dan pencegahan pembakaran lahan menjadi langkah penting untuk menekan risiko kerusakan lingkungan serta dampak kabut asap terhadap masyarakat.

Red

Exit mobile version