News

DARAH ULAMA MEMANGGIL! Agus Flores Pulang ke Besuki, Rajut Silaturahmi di Pesantren Leluhur Bersama Nyai Hajah Khoiria dan Wakapolres Situbondo

141

 

BESUKI, SITUBONDO 20 Oktober 2026 Sejauh apa pun langkah membawa seseorang merantau, sejauh apa pun perjalanan kehidupan mengantarkannya menuju berbagai pencapaian, ada satu hal yang tak sepatutnya dilupakan: asal-usul, keluarga, nasihat para sesepuh, dan doa yang mengiringi setiap langkah kehidupan.

Pesan penuh makna itulah yang tergambar dalam silaturahmi Ketua Umum Fast Respon (FRN), Agus Flores, di Besuki, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Di tengah kesibukan dan aktivitasnya di berbagai daerah, Agus Flores menyempatkan diri untuk kembali menyambung tali persaudaraan dengan keluarga besar Pondok Pesantren Miftahul Ulum, pesantren yang memiliki ikatan sejarah dengan keluarganya.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat, penuh kekeluargaan, dan sarat nuansa religius. Hadir Nyai Hajah Khoiria, mantan Wakil Bupati Situbondo sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Ulum, bersama para santri. Wakapolres Situbondo juga turut hadir dalam momen silaturahmi tersebut.

Bagi Agus Flores, kunjungan ini bukan sekadar pertemuan keluarga atau agenda singkat di kampung halaman. Ada kerinduan yang ingin dituntaskan, hubungan persaudaraan yang ingin terus dirawat, serta penghormatan kepada para ulama dan pendahulu yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah keluarganya.

Ungkapan “Darah Ulama Memanggil” menjadi gambaran emosional tentang kerinduan untuk kembali menyapa akar keluarga dan lingkungan pesantren yang memiliki arti tersendiri dalam perjalanan hidupnya.

Kembali ke Akar Leluhur, Menjaga Warisan Nilai Ulama

Agus Flores menyampaikan bahwa dirinya memiliki ikatan keluarga dengan Besuki serta hubungan kekerabatan dengan lingkungan Pondok Pesantren Miftahul Ulum yang didirikan oleh almarhum KH Abdul Rozak Soleh, sebagaimana dituturkan dalam silaturahmi tersebut.

Bagi dirinya, pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama. Lebih dari itu, pesantren merupakan ruang pendidikan akhlak, pembentukan karakter, penguatan persaudaraan, dan penanaman nilai-nilai kebaikan bagi generasi penerus.

Di lingkungan yang memiliki ikatan sejarah dengan keluarganya itu, Agus Flores kembali diingatkan akan pentingnya menjaga hubungan dengan para sesepuh dan keluarga besar.

Kehidupan modern kerap membawa seseorang pada kesibukan, tanggung jawab, dan perjalanan panjang mengejar cita-cita. Namun, di tengah semua itu, hubungan keluarga dan penghormatan kepada orang-orang yang lebih dahulu menanamkan nilai kehidupan tetap memiliki tempat yang istimewa.

Setinggi apa pun kedudukan seseorang, kerendahan hati untuk menghormati orang tua, ulama, dan para pendahulu merupakan nilai yang patut dijaga.

Sebab, warisan keluarga tidak hanya berupa nama dan sejarah, tetapi juga nasihat, keteladanan, serta nilai kebaikan yang diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Nyai Hajah Khoiria, Sosok Keluarga yang Menguatkan Silaturahmi

Kehadiran Nyai Hajah Khoiria dalam pertemuan tersebut menjadi bagian penting dari suasana kekeluargaan yang terbangun. Selain dikenal sebagai mantan Wakil Bupati Situbondo, beliau juga memimpin Pondok Pesantren Miftahul Ulum.

Bagi Agus Flores, pertemuan dengan tante tercintanya itu menjadi kesempatan untuk mempererat kembali hubungan keluarga sekaligus menyapa lingkungan pesantren yang memiliki makna historis baginya.

Kehangatan silaturahmi tersebut juga terasa melalui kehadiran para santri yang menjadi bagian dari kehidupan pesantren. Di lingkungan pendidikan Islam, nilai penghormatan kepada guru, kasih sayang kepada keluarga, dan kepedulian terhadap sesama merupakan bagian penting dari pembentukan akhlak.

Silaturahmi semacam ini mengingatkan bahwa hubungan keluarga perlu dirawat melalui pertemuan, perhatian, dan komunikasi yang tulus, bukan hanya melalui hubungan kekerabatan yang tercatat dalam silsilah.

Terkadang, pertemuan sederhana dengan keluarga justru menghadirkan ketenangan yang tidak selalu ditemukan di tengah hiruk-pikuk aktivitas sehari-hari.

Doa untuk Suami, Keluarga, dan Perjuangan Kehidupan

Di balik suasana silaturahmi yang hangat, terselip pesan spiritual tentang perjuangan seorang suami dalam menjalankan tanggung jawab, menafkahi keluarga, dan berusaha menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang yang dicintainya.

Doa yang menyertai pesan tersebut berbunyi:

“Allahumma yassir wa la tu’assir, Rabbi tammim bil khair.”

Artinya: Ya Allah, mudahkanlah dan jangan Engkau persulit. Ya Tuhanku, sempurnakanlah segala urusan dengan kebaikan.

Doa ini menjadi ungkapan harapan agar setiap ikhtiar memperoleh kemudahan, setiap tanggung jawab dijalankan dengan baik, dan setiap langkah senantiasa berada dalam perlindungan serta rida Allah SWT.

Dalam kehidupan, tidak semua perjuangan dapat dilihat atau dipahami oleh orang lain. Ada tanggung jawab yang harus ditunaikan, keluarga yang perlu dijaga, serta harapan yang terus diperjuangkan dengan kesabaran.

Karena itu, doa keluarga dan dukungan orang-orang terdekat menjadi kekuatan yang berharga. Keberhasilan bukan semata-mata tentang pencapaian duniawi, melainkan juga tentang bagaimana seseorang menjalani kehidupannya dengan kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan ketulusan.

Dalam perspektif Islam, ikhtiar dan doa berjalan beriringan. Manusia berkewajiban berusaha sebaik mungkin, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT.

Nilai inilah yang membuat silaturahmi tidak hanya bermakna secara sosial, tetapi juga menjadi pengingat spiritual untuk terus memperbaiki diri.

“Kapan Lagi Kalau Bukan Sekarang?” Pesan Sederhana yang Sarat Makna

Dalam kesempatan tersebut, Agus Flores menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan Nyai Hajah Khoiria, para santri, serta seluruh pihak yang hadir dalam pertemuan tersebut.

Ia juga menyampaikan keinginannya untuk kembali berkunjung ke Pondok Pesantren Miftahul Ulum selama masih berada di Besuki.

Baginya, kesempatan bertemu keluarga besar tidak seharusnya disia-siakan. Terlebih, kesibukan dan aktivitas yang berbeda-beda sering kali membuat anggota keluarga berada di tempat yang berjauhan.

Pesan yang disampaikannya sederhana, tetapi mengandung makna mendalam:

Kapan lagi kalau bukan sekarang melakukan silaturahmi.”

Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa waktu untuk menyapa keluarga dan menghormati orang-orang yang lebih tua tidak selalu datang pada kesempatan yang sama.

Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari arti kehadiran keluarga. Jangan menunggu berjauhan untuk merasakan kerinduan kepada kampung halaman. Dan jangan menunda berbuat baik ketika kesempatan masih terbuka.

Silaturahmi juga bukan semata-mata tentang siapa yang datang lebih dahulu atau siapa yang memiliki kedudukan lebih tinggi. Silaturahmi adalah kesediaan untuk saling menyapa, mendengarkan, menghormati, dan menjaga hubungan persaudaraan dengan tulus.

Dalam ajaran Islam, menjaga hubungan kekeluargaan merupakan bagian dari akhlak yang sangat dianjurkan. Karena itu, pulang ke kampung halaman untuk menemui keluarga dan para sesepuh dapat menjadi kesempatan memperkuat kembali nilai-nilai tersebut.

Kehadiran Wakapolres Situbondo, Mempererat Kebersamaan

Kehadiran Wakapolres Situbondo dalam pertemuan itu turut mewarnai suasana silaturahmi yang mempertemukan keluarga, lingkungan pesantren, dan unsur kepolisian.

Momen kebersamaan tersebut menggambarkan pentingnya membangun hubungan yang baik di tengah masyarakat dengan tetap mengedepankan sikap saling menghormati.

Pesantren memiliki peran penting dalam pendidikan agama dan pembentukan akhlak. Sementara itu, kepolisian menjalankan tugas menjaga keamanan, ketertiban, serta memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai kewenangannya.

Ketika berbagai unsur masyarakat bertemu dalam suasana kekeluargaan, ruang komunikasi dan saling pengertian dapat terus diperkuat.

Kendati demikian, makna utama pertemuan tersebut tetap terletak pada silaturahmi, penghormatan terhadap keluarga, dan upaya menjaga hubungan baik dengan lingkungan yang memiliki ikatan sejarah dalam perjalanan hidup Agus Flores.

Pulang dengan Kerendahan Hati, Melangkah dengan Doa

Pada akhirnya, silaturahmi Agus Flores di Besuki bukan semata-mata tentang seseorang yang kembali ke tanah leluhurnya. Ada pesan yang lebih luas tentang pentingnya menjaga hubungan keluarga, menghormati ulama, merawat persaudaraan, dan menjadikan nilai agama sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

Nama besar, jabatan, dan pencapaian duniawi pada waktunya akan menjadi bagian dari perjalanan masa lalu. Namun, ketulusan dalam menjaga keluarga, menghormati para sesepuh, serta menebarkan kebaikan dapat terus hidup melalui tindakan nyata.

Kembali ke lingkungan pesantren yang memiliki ikatan sejarah dengan keluarganya menjadi pengingat bahwa akar kehidupan tidak semestinya dilupakan ketika seseorang melangkah semakin jauh.

Bagi Agus Flores, silaturahmi ini menjadi kesempatan untuk kembali menyapa keluarga, menguatkan hubungan persaudaraan, dan menyampaikan penghormatan kepada lingkungan pesantren yang memiliki arti tersendiri dalam perjalanan keluarganya.

Semoga pertemuan tersebut membawa keberkahan, mempererat persaudaraan, serta menjadi jalan bagi tumbuhnya kebaikan bagi keluarga besar, Pondok Pesantren Miftahul Ulum, dan masyarakat Situbondo.

Sebab, manusia boleh pergi sejauh mungkin untuk mengejar cita-cita, tetapi hati yang senantiasa mengingat Allah tidak sepatutnya melupakan keluarga, menghormati para pendahulu, dan menjaga hubungan baik dengan sesama.
Sempurnakan
Red

Exit mobile version