PolitikPolri

Ketum Fastrespon Tegaskan Tak Kejar Jabatan Karena Sudah Trahnya, Fokus Perjuangkan Kembali Jejak Sejarah Besuki-Panarukan

38

JAWA TIMUR 5 Oktober 2026 Ketua Umum Fresredpon menyampaikan pandangannya mengenai perjalanan hidup, perjuangan, serta perhatian terhadap sejarah kawasan Besuki dan Panarukan, Jawa Timur.

Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa dirinya tidak sedang mengejar jabatan di pemerintahan. Baginya, perjalanan yang dilakukan selama ini lebih banyak didorong oleh keyakinan pribadi, pengalaman hidup, serta keinginan untuk terus bergerak dari satu daerah ke daerah lainnya.

«“Saya cuma mengikuti kata angin, hati, gerakan batin, dan petunjuk langit dan bumi. Di mana arah angin dan jarum jam berputar,” ujarnya.»

Ia mengatakan, sejak muda hingga memasuki usia setengah baya, dirinya memang memiliki kebiasaan melakukan perjalanan dari satu daerah ke daerah lainnya. Karena itu, ia tidak terlalu mempersoalkan penilaian orang terhadap dirinya, baik maupun buruk.

Menurutnya, penilaian tersebut hanyalah bagian dari sifat manusia. Ia justru memilih memikirkan langkah ke depan dan mencari makna yang lebih besar dari perjalanan hidupnya.

“Kalau saya disebut baik atau tidak, itu kata sifat saja. Tapi roh dan jasad saya ini sudah milik bumi dan langit. Mau dibilang A atau B, saya bukan zamannya menjawab itu lagi. Saya berpikir ke depan saja, sampai mencari pintu bumi sebenarnya,” katanya.

Tidak Mengejar Jabatan Pemerintahan

Lebih lanjut, Ketum Fresredpon menegaskan bahwa perjuangannya bukan untuk mendapatkan jabatan di pemerintahan.

“Kalau soal kejar jabatan di pemerintah, nooooo,” tegasnya.

Ia justru menyebut memiliki perhatian khusus terhadap sejarah kawasan Besuki dan Panarukan. Menurutnya, sejarah tersebut perlu kembali diperkenalkan dan dikaji secara lebih serius oleh generasi sekarang.

“Karena trah darahku sudah dari dulu, nenek moyangku banyak raja dan pejabat zaman dahulu,” ungkapnya.

Ia kemudian menyampaikan keinginannya untuk mendorong kembali pembahasan mengenai sejarah pemerintahan Besuki dan Panarukan.

“Yang saya kejar sekarang, kembalikan sejarah Residen Besuki Jatim, agar kembali jadi Kabupaten Besuki-Panarukan,” ujarnya.

Jejak Sejarah Besuki dan Panarukan

Pernyataan tersebut memiliki kaitan dengan sejarah administratif kawasan Jawa Timur bagian timur. Sejumlah sumber sejarah mencatat bahwa Besuki pernah berstatus sebagai kabupaten, sementara Panarukan kemudian berkembang menjadi wilayah administratif tersendiri. Penelitian sejarah menyebut Kabupaten Besuki dibentuk sekitar 1818–1819, sedangkan Panarukan kemudian ditingkatkan statusnya menjadi kabupaten pada 1850.

Sumber kebudayaan pemerintah juga mencatat bahwa Besuki pernah menjadi daerah setingkat kabupaten dan dalam perkembangan sejarahnya berkaitan erat dengan Karesidenan Besuki.

Sementara itu, nama Panarukan juga memiliki posisi penting dalam sejarah kawasan tersebut. Kabupaten Panarukan kemudian berganti nama menjadi Kabupaten Situbondo pada 1972.

Karena itu, gagasan untuk mengangkat kembali sejarah Besuki dan Panarukan menjadi isu yang berkaitan dengan identitas sejarah dan budaya daerah. Namun, apabila diarahkan pada perubahan status administratif pemerintahan saat ini, tentu membutuhkan kajian sejarah, sosial, ekonomi, hukum, serta mekanisme pemerintahan sesuai peraturan perundang-undangan.

Bagi Ketum Fresredpon, perjuangan tersebut bukan semata-mata tentang kedudukan atau kekuasaan. Ia menempatkannya sebagai bagian dari upaya menggali kembali sejarah dan identitas daerah.

“Yang saya pikirkan sekarang bukan jabatan. Saya ingin sejarah itu kembali dibicarakan dan diketahui generasi berikutnya,” pungkasnya

Exit mobile version