News

Diduga Keracunan Massal Usai Santap Menu MBG di Kalijaga Cirebon, Lebih dari 200 Orang Terdampak

42

 

CIREBON, 21 Oktober 2026 Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, menjadi perhatian setelah lebih dari 200 orang yang terdiri atas siswa dan guru dilaporkan mengalami gangguan kesehatan usai menyantap makanan yang dibagikan pada Selasa (20/10/2026). Sejumlah korban dilaporkan harus mendapatkan perawatan medis di beberapa rumah sakit.

Peristiwa yang diduga berkaitan dengan konsumsi menu MBG tersebut menimbulkan keprihatinan, terutama karena program pemenuhan gizi ini menyasar anak-anak sekolah. Penanganan medis terhadap para korban dan penelusuran penyebab kejadian menjadi hal mendesak untuk memastikan keselamatan penerima manfaat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, keluhan kesehatan mulai muncul sekitar pukul 15.00 WIB, setelah para siswa pulang sekolah. Gejala yang dilaporkan meliputi mual, muntah-muntah, sakit perut, hingga diare.

Sejumlah satuan pendidikan dan kelompok masyarakat dilaporkan terdampak, di antaranya SDN Kalijaga Permai, SDN Taman Kalijaga Permai, TK Teratai, serta peserta kegiatan posyandu di wilayah tersebut.

Menu Berbau Tidak Sedap Jadi Perhatian

Menu yang dikonsumsi saat kejadian disebut terdiri atas sayur sop dengan lauk telur puyuh. Berdasarkan keluhan yang beredar, makanan tersebut diduga memiliki bau tidak sedap dan rasa asam.

Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu ditelusuri dalam penyelidikan. Namun, dugaan bahwa makanan menjadi penyebab gangguan kesehatan belum dapat dipastikan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium dan penyelidikan epidemiologis diumumkan oleh pihak berwenang.

Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah kejadian tersebut berkaitan dengan kualitas bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, pengemasan, distribusi, atau faktor lain yang mungkin memengaruhi keamanan pangan.

Korban Mendapatkan Penanganan Medis

Para korban dilaporkan mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan di Kota Cirebon, antara lain RS Siloam Putera Bahagia, RSUD Gunung Jati, RS Ciremai, dan RS Cahaya Bunda.

Jumlah korban yang dilaporkan melampaui 200 orang. Sementara itu, informasi mengenai jumlah pasti pasien yang menjalani rawat inap, kondisi terkini para korban, serta perkembangan penanganan medis masih perlu dikonfirmasi melalui keterangan resmi instansi terkait.

Keselamatan para siswa, guru, dan masyarakat yang terdampak harus menjadi prioritas. Pendataan korban secara menyeluruh juga diperlukan agar tidak ada warga yang mengalami gejala tetapi belum mendapatkan pemeriksaan atau bantuan medis.

Operasional Dapur MBG Dihentikan Sementara

Sebagai langkah awal, Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Cirebon dilaporkan telah menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalijaga yang memasok makanan tersebut sejak Selasa malam.

Penghentian sementara ini menjadi langkah penting untuk mendukung pemeriksaan dan mencegah potensi risiko lanjutan selama penyebab kejadian masih ditelusuri.

Selain itu, sampel makanan telah diamankan oleh Dinas Kesehatan bersama instansi terkait untuk menjalani pemeriksaan laboratorium. Hasil pengujian diharapkan dapat membantu mengidentifikasi kemungkinan kontaminasi maupun faktor lain yang berkaitan dengan gangguan kesehatan para korban.

Pihak berwenang juga perlu menelusuri rantai penyediaan makanan, mulai dari penerimaan bahan baku, proses memasak, penyimpanan, hingga distribusi ke sekolah dan kelompok penerima manfaat lainnya.

Evaluasi dan Transparansi Menjadi Tuntutan Penting

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan program MBG tidak cukup diukur dari jumlah makanan yang dibagikan atau terpenuhinya kebutuhan gizi. Keamanan pangan, kebersihan dapur, kualitas bahan makanan, serta pengawasan selama proses produksi dan distribusi harus menjadi bagian utama pelaksanaan program.

Apabila hasil pemeriksaan membuktikan adanya pelanggaran terhadap standar keamanan pangan, instansi berwenang perlu mengambil tindakan sesuai ketentuan yang berlaku. Sebaliknya, penetapan penyebab maupun pihak yang bertanggung jawab harus didasarkan pada hasil pemeriksaan dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Masyarakat juga membutuhkan informasi yang terbuka mengenai perkembangan kondisi korban, hasil uji laboratorium, serta langkah evaluasi yang akan diterapkan sebelum operasional dapur terkait kembali berjalan.

Pemerintah daerah, pengelola program MBG, dinas kesehatan, dan pihak terkait diharapkan dapat berkoordinasi secara menyeluruh agar penanganan berjalan cepat, tepat, dan transparan.

Hingga penyebab pasti kejadian diketahui, dugaan keracunan tersebut masih memerlukan pembuktian melalui pemeriksaan laboratorium dan penyelidikan resmi. Prioritas utama saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan yang diperlukan sekaligus menjamin keamanan makanan bagi para penerima manfaat program MBG berikutnya.
Red

Exit mobile version