Maluku – Di tengah ancaman kemarau ekstrem yang meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), Satuan Brimob Polda Maluku bergerak cepat melakukan penanganan di sejumlah titik kebakaran. Puluhan personel diterjunkan untuk menjinakkan api sekaligus mencegah kebakaran meluas ke wilayah sekitarnya.
Penanganan Karhutla dilakukan di Desa Namlea, Kecamatan Namlea, Kabupaten Buru, pada Minggu (9/8/2026) sekitar pukul 18.20 WIT. Sebanyak 30 personel Kompi 3 Batalyon A Pelopor di bawah pimpinan AKP R. Sinay dikerahkan untuk memadamkan api yang membakar lahan seluas kurang lebih 1 hektare.
Tidak hanya di Kabupaten Buru, Pernah Fast Respon/respons cepat juga dilakukan personel Brimob di Desa Administratif Wailola, Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur, pada Sabtu (1/8/2026) sekitar pukul 10.30 WIT. Sebanyak 7 personel Kompi 3 Batalyon B Pelopor dipimpin Ipda Marli La Idi diterjunkan untuk menangani kebakaran yang berdampak pada area sekitar 30 hektare.
Dalam proses pemadaman, personel Brimob mengerahkan Kendaraan Taktis (Rantis) Armored Water Cannon (AWC) serta menggunakan sejumlah perlengkapan pelindung, seperti sarung tangan, kacamata, masker dan sepatu boat. Peralatan tersebut digunakan untuk mendukung keselamatan personel saat menghadapi kondisi lapangan yang penuh asap, panas, dan medan yang tidak mudah dijangkau.
Penanganan Karhutla di Maluku bukan tanpa tantangan. Kondisi kemarau ekstrem menyebabkan lahan menjadi kering sehingga api lebih cepat menjalar. Angin kencang, terbatasnya sumber air, serta jarak sumber air yang cukup jauh dari lokasi kebakaran turut menjadi kendala dalam proses pemadaman.
Selain itu, luasnya area yang terdampak dan akses menuju lokasi yang sulit dijangkau membuat personel harus bekerja ekstra untuk mengendalikan kobaran api dan memastikan tidak muncul titik api baru.
Di lapangan, personel Brimob tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga melakukan upaya pengendalian agar api tidak semakin meluas. Setiap titik yang berpotensi menimbulkan bara kembali menjadi perhatian dalam proses penanganan.
Kondisi tersebut sekaligus menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi Karhutla, terutama selama musim kemarau. Kebiasaan membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar juga menjadi salah satu faktor sosial yang berpotensi memicu kebakaran apabila dilakukan tanpa pengawasan dan langkah pencegahan yang tepat.
Untuk mendukung penanganan Karhutla di medan yang sulit, diperlukan penguatan perlengkapan keselamatan maupun sarana pemadaman, antara lain pakaian tahan api, helm dan headlamp, kacamata goggle, masker, serta sepatu pelindung. Dukungan pompa portabel, backpack sprayer, pompa jinjing bertekanan tinggi dan tangki air portabel juga dapat memperkuat kemampuan personel dalam menjangkau titik api yang jauh dari sumber air.
Respons cepat Satbrimob Polda Maluku menjadi wujud kesiapsiagaan Korps Brimob Polri dalam menghadapi berbagai ancaman yang dapat membahayakan masyarakat dan lingkungan. Dengan dukungan personel, peralatan, serta koordinasi bersama seluruh pihak terkait, penanganan Karhutla terus dilakukan untuk memastikan api dapat dikendalikan dan tidak meluas.












