BESUKI, SITUBONDO, – Ketua Umum Fast Respon Nusantara (FRN), Agus Flores, atau Raden Mas MH Agus Rugiarto SH, dikenal Jowo Flores Madura Sulawesi Ini, menyerukan agar jajaran kepolisian dapat hadir dalam kegiatan doa yang digelar sebagai bentuk dukungan moral sekaligus mendoakan Kapolri beserta jajaran dan para pimpinan Polri.
“Masalahnya, Rakyat jauh jauh dari Luar Daerah, mau Doakan Kapolri, Puluhan Bus puluhan Bus datang ke Alun alun, masa yang didoakan, anggotanya ngak datang, saya khawatir Media tulis ngak ngak terhadap Anggota Berhianat kepada Atasannya, karena Media Online, Medsos dan Live Streaming berpengaruh sekali zaman ini, dan dilayar vidio tront panggung terpajang 3 Tokoh yakni, Presiden Prabowo, Mantan Presiden Jokowi dan Kapolri Jendral Pol Listyo Sigit Prabowo, Apakab dengan begitu tidak tergerak hati anggota Polisi, lagian sudah saya surati undangan Digital kepada 18 Kapolda agar mengutus amggotanya,” tegas Agus Flores ini.
Agus Flores menegaskan, kehadiran polisi dalam kegiatan tersebut bukan karena adanya perintah atau atensi khusus dari Kapolri. Menurutnya, yang terpenting adalah kehadiran tersebut lahir dari kesadaran dan keinginan untuk memberikan doa serta penghormatan kepada pimpinan institusi.
“Tidak mungkin Bapak Kapolri memberikan atensi agar acara AF harus hadir. Ini rasa hati dan keinginan sendiri untuk mendoakan atasannya,” ujar Agus Flores.
Ia mengatakan, pihaknya telah menyampaikan pemberitahuan secara resmi melalui surat kepada Kapolri. Undangan juga telah disampaikan kepada masing-masing Kapolda sebagai bentuk komunikasi dan penghormatan terhadap institusi Polri.
Menurut Agus, kegiatan tersebut akan disiarkan secara langsung dan dapat disaksikan masyarakat Indonesia. Sejumlah media juga disebut akan hadir untuk meliput jalannya kegiatan.
Karena itu, Agus mengingatkan agar persoalan kehadiran polisi tidak berkembang menjadi tafsir liar di ruang publik.
“Yang penting sudah saya beritahukan dalam bentuk surat kepada Bapak Kapolri. Dan undangan ke masing-masing Kapolda,” tegasnya.
Agus juga menyoroti kemungkinan munculnya pemberitaan apabila tidak ada perwakilan kepolisian yang hadir dalam kegiatan tersebut.
“Ini live streaming disaksikan masyarakat Indonesia, dan media hadir,” katanya.
Ia mengingatkan, media memiliki kebebasan untuk memberitakan apa yang mereka lihat di lapangan. Karena itu, pihaknya tidak ingin ketidakhadiran aparat justru menimbulkan persepsi atau pemberitaan yang dapat merugikan citra institusi.
“Jangan sampai media tulis, ‘mendoakan Kapolri, polisi tidak hadir, berarti banyak pengkhianat’. Media ini tidak bisa dilarang untuk menulis,” ujarnya.
Agus menegaskan, kegiatan tersebut pada prinsipnya merupakan bentuk doa dan dukungan moral. Tidak ada maksud untuk mencampuri kewenangan maupun kebijakan pimpinan Polri.
Ia berharap seluruh pihak dapat melihat kegiatan tersebut secara proporsional sebagai bagian dari upaya menjaga komunikasi, solidaritas dan hubungan baik antara masyarakat, organisasi masyarakat, media serta institusi kepolisian.
Pesan Agus Flores sederhana: kehadiran bukan soal perintah, melainkan soal hati. Namun ketika doa untuk pimpinan disaksikan publik dan media, ketidakhadiran pun berpotensi memunculkan tafsir yang berbeda.












